
Oleh:
—Dudy Imanuddin Effendi—
OPINI, haluanindonesia.id – Konon hidup adalah kumpulan episode. Didalamnya penuh dengan rangkaian cerita persahabatan tentang perjalanan yang penuh suka dan cita. Kadang tangis dan sedih melanda untuk membuat nilai persahabatan menjadi lebih kuat dari yang sebelumnya. Saat terjadi perpisahan, lihatlah nilai-nilai persahabatan dari hari-hari yang telah dilalui bersama. Maka kita akan tergerak hati untuk mengabadikan persahabatan tersebut tinimbang melupakannya.
Episode hidup, dimana secara bersama melipat hati dalam ruang persahabatan yang bermakna. Satu sama lain saling memberi dan saling menerima makna hidup. Walau saatnya memang harus menyudahi penyatuan dalam genggaman bersama dan terlepas di batas perpisahan. Tetapi bukanlah tuk saling melupakan dan meninggalkan. Justru sebaliknya, semakin memperkokoh ikatan jiwa walau berjarak.
Ya, jarak itu sebenarnya tak pernah ada dalam ruang persahabatan. Jika persahabatan dilambari oleh perasaan tuk saling berkasih sayang, maka Pertemuan dan perpisahan hanyalah satu tangga tuk menuju penyatuan jiwa secara abadi.
Jejak pancaran kebaikan dan pernak-pernik pengalaman dalam satu masa persahabatan bisa menjadi puisi tentang hari-hari yang dapat menyihir diantara yang bersahabat menjadi kuntum-kuntum asa. Ruang memori setiap orang bersahabat akan menjelma menjadi penyimpan data yang selalu setia menampung sejarah tentang kenangan atas setiap perjumpaan dan perpisahan. Terus berotasi antara perjumpaan dan perpisahan sampai berujung pada kematian.
Catatlah, kata Khalil Gibran, persahabatan karena kasih sayang tidak akan pernah diketahui kedalamannya sampai merasakan jam-jam perpisahan. Kasih sayang yang terjaga menjadi sajian sarat makna dalam setiap pertemuan dan perpisahan. Kasih sayang membuat jiwa setiap orang bersahabat dapat memahami nilai-nilai bermakna dalam kehidupan yang terindra nyata maupun yang tersirat.
Karenanya seorang filosof, Jean Paul Sartre, penah mengatakan “jangan pernah berpisah tanpa ungkapan kasih sayang untuk dikenang”.
Sekali lagi, perpisahan bukan melupakan dan ungkapan selamat tinggal.
Kata Jalaludin Rumi, untuk mereka yang berkasih sayang dengan hati dan jiwa tidak ada yang namanya perpisahan dalam makna melupakan.dan meninggalkan. Sebab kata
William Shakespeare, “God knows when we shall meet again (Tuhan tahu kapan kita akan bertemu lagi).
Walau faktanya, kata perpisahan selalu dihadirkan dalam setiap episode kehidupan, tapi bagaimanapun harus tetap menguatkan hati dan mengantar yang pergi dengan senyuman dan doa.
Sahabat terbaik Sektor 11 Daerah Mekkah, “semoga hati kita selalu terbuka untuk saling memberi maaf. Semoga Alloh selalu menaburi keberkahan kepada kita. Dan semoga setiap apa yang telah kita jalankan sebagai petugas PPIH menjadi amal ibadah disisi Alloh.
Secara pribadi, pertemuan dengan kalian semua merupakan anugerah terindah yang telah dianugerahkan oleh Alloh. Karenanya sepakat dengan Mahatma Gandhi, “tidak ada kata selamat tinggal untuk kita. Di mana pun kalian berada akan selalu ada di hatiku.” Juga sepakat dengan salah satu lirik lagu Litte Mix band musik dari negara Inggris, “Don’t you worry. The circle will never end. Just know that we’ll meet again. And we’ll always be together, forever, always.
#Manusia Hening# 27 Juli 2023, Park Regis, Misfalah Mekkah#Kembalilah kepangkuan keluarga dengan senyuman dan kebahagiaan#rangkul mereka erat-erat penuh kasih sayang#ya, mereka telah menanti penuh kerinduan#catatan sederhana untuk para sahabat sektor 11 Daerah Kerja Mekkah#
Penulis adalah Kaprodi BKI FDK UIN SGD Bandung.

Tidak ada komentar