
Bandung, haluanindonesia.id – Balutan toga dan predikat lulusan terbaik S2 Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Oktober 2025 bukanlah sekadar pencapaian akademik biasa. Di balik semua itu, berdiri sosok sederhana: Mochammad Devi Cahya Ruhimat, guru honorer dari SMP Cendekia Sukahegar, Cianjur.
Tak bersandar pada gaji besar atau status sosial, Devi membuktikan bahwa integritas dan ketekunan bisa menjadi kunci untuk menembus batas. Lulus dengan IPK sempurna 4.00 dalam empat semester, Devi juga berhasil memublikasikan 12 karya ilmiah di jurnal nasional dan internasional bereputasi hanya dalam kurun satu tahun (2024–2025), bekerja sama dengan penulis dari lima negara. Ia juga meraih penghargaan sebagai best presenter dalam konferensi ilmiah internasional.
Putra ketiga dari pasangan Aten Tabroni (67) dan Nani Kurniati (64) ini menempuh jalur akademik yang tidak mudah. Meski beruntung mendapatkan Beasiswa Pendidikan Indonesia (BPI) dari Kemendikbudristek dan LPDP sejak 2023, tantangan studi di kampus besar seperti UPI tetap berat.
“Tugas-tugas kuliah dan syarat kelulusan di UPI, dari awal memang berbeda dengan kampus lain. Tapi justru itu yang membuat proses ini menarik. Saya dipaksa keluar dari zona nyaman, dan itu sangat mengembangkan diri saya,” ungkap Devi kepada haluanindonesia.id.
Ketangguhannya tidak hanya tampak dari nilai akademik. Devi membangun kebiasaan belajar yang disiplin: membaca ratusan jurnal, menulis di teras Masjid Al Furqon kampus UPI, dan mengerjakan tugas sejak dini. Ia memilih untuk menjauh dari lingkungan pergaulan yang glamor dan kosong makna, lebih memilih lingkar kecil berisi sahabat-sahabat yang saling mendukung dan membangun.
“Saya sadar, tidak semua lingkungan mendukung pertumbuhan. Saya lebih nyaman dengan teman-teman yang satu visi, fokus berkarya, dan saling mengingatkan,” katanya.
Dosen pembimbingnya, Dr. Eka Prihatin, M.Pd., dan Dr. Taufani C. Kurniatun, M.Si., membenarkan dedikasi luar biasa Devi selama masa studi.
“Dia rajin diskusi, konsisten membaca, dan selalu punya inisiatif dalam merespons isu-isu pendidikan lewat riset,” ujar Dr. Eka. Sementara Dr. Taufani menambahkan, “Ia bahkan sering minta tambahan waktu untuk bimbingan dan evaluasi diri. Itu yang jarang dimiliki mahasiswa.”
Perjalanan akademik ini juga tidak lepas dari peran keluarga. Dukungan sang istri, Siti Rubai’ah, dan kedua anaknya menjadi bahan bakar utama semangat Devi. “Saya tahu, untuk kuliah ini, saya mempertaruhkan banyak hal. Termasuk kebutuhan keluarga. Maka rasanya bodoh kalau saya tidak total dalam menempuhnya,” ucapnya penuh refleksi.
Meski kini menerima beberapa tawaran menjadi dosen, Devi masih mempertimbangkan pilihannya. Ia memilih untuk tetap membumi dan melanjutkan kontribusinya melalui Epistelion, komunitas yang ia rintis bersama sahabat-sahabatnya. Komunitas ini menyediakan pelatihan menulis ilmiah secara gratis bagi guru, dosen muda, dan mahasiswa.
Baru-baru ini, kegiatan webinar Epistelion berhasil menjaring 269 peserta dari berbagai daerah. Baginya, ini adalah bentuk kontribusi konkret dalam upaya membangun kualitas SDM pendidikan di Indonesia.
“Saya ingin membuktikan bahwa keterbatasan bukan penghalang, justru bisa menjadi pemantik. Dan saya sangat bersyukur, dosen-dosen di Adpend UPI bukan hanya ahli secara akademik, tapi juga sangat luar biasa dalam membimbing,” ujarnya.
Ketika nama Devi Ruhimat disebut sebagai lulusan terbaik di aula wisuda, seisi ruangan sontak bergemuruh. Banyak yang bertanya-tanya: bagaimana mungkin seorang guru honorer dari daerah bisa menghasilkan IPK sempurna dan belasan publikasi ilmiah hanya dalam empat semester?
Namun hari itu, bukan soal ekonomi yang berbicara, melainkan kehormatan seorang pendidik—pembelajar yang tidak pernah menyerah. Akun Instagram-nya, @ruhimat.mochammad, pun mendadak disorot publik, meskipun dirinya nyaris tidak pernah mempromosikan capaian akademiknya.
“Ilmu yang saya peroleh ini harus berguna. Tidak hanya untuk keluarga, tapi juga untuk bangsa dan negara,” tutup Devi setelah wisuda, 15 Oktober lalu.
Lebih dari sekadar kisah sukses, perjalanan Devi Ruhimat adalah cermin dari kekuatan seorang pembelajar yang tidak menyerah pada keadaan. Penulis belajar bahwa siapa pun, bahkan yang berasal dari pinggir panggung kehidupan, bisa meraih puncak jika memegang empat hal:
Empat pilar itu menjadikan Devi Ruhimat bukan sekadar lulusan terbaik. Tapi juga simbol dari pembelajar berintegritas, yang ilmunya tidak hanya mencerahkan dirinya—tetapi juga memberi terang bagi sekitar.

Tidak ada komentar