x

Bersatu untuk Perdamaian: 600 Pemimpin Dunia Rayakan 11 Tahun HWPL

waktu baca 3 menit
Kamis, 21 Agu 2025 14:47 636 Deni Wijaya

Cheongju, Korea Selatan, Haluanindonesia.id – Lebih dari 600 pemimpin dunia dari berbagai latar belakang akan berkumpul dalam peringatan 11 tahun HWPL World Peace Summit yang akan diselenggarakan pada 18–19 September 2025 di Cheongju, Korea Selatan. Acara ini diinisiasi oleh organisasi perdamaian internasional Heavenly Culture, World Peace, Restoration of Light (HWPL) dengan mengangkat tema “Bersatu untuk Perdamaian, Bersama Menunaikan Tugas Kemanusiaan.”

Lebih dari 20 pejabat tinggi negara—termasuk presiden, perdana menteri, ketua parlemen, hingga tokoh-tokoh dari bidang pendidikan, keagamaan, dan media—dijadwalkan hadir untuk memperingati momentum penting ini. Tujuannya tidak hanya untuk meninjau capaian selama 11 tahun perjalanan perdamaian, namun juga merumuskan strategi kolaboratif untuk mendorong terciptanya perdamaian yang berkelanjutan di tingkat global.

Tonggak Sejarah dan Fondasi Perdamaian

Peringatan ini menjadi kelanjutan dari deklarasi perdamaian yang pertama kali diresmikan dalam HWPL World Peace Summit pada tahun 2014. Saat itu, pemimpin dunia menandatangani dua dokumen penting: inisiatif pembentukan hukum internasional untuk mengakhiri perang, serta perjanjian antaragama guna memperkuat harmoni lintas kepercayaan.

Dari sinilah lahir Declaration of Peace and Cessation of War (DPCW) pada tahun 2016, yang menjadi pijakan bagi program-program unggulan HWPL seperti Legislate Peace (LP), peningkatan dialog antaragama, serta partisipasi masyarakat sipil dalam membangun budaya damai.

Capaian Global dalam Setahun Terakhir

Tahun lalu, dukungan terhadap DPCW meningkat secara signifikan di berbagai wilayah dunia. Sejumlah pemerintah daerah di Amerika Serikat, Mongolia, Mali, dan Madagaskar telah mengesahkan resolusi yang menyatakan dukungan terhadap prinsip-prinsip DPCW.

Salah satu pencapaian strategis adalah pengesahan resolusi oleh Parlemen Amerika Latin dan Karibia (PARLATINO) yang beranggotakan 23 negara untuk mendorong adopsi DPCW sebagai dasar hukum perdamaian di tingkat kawasan.

Selain itu, program kajian kitab suci lintas agama semakin digalakkan guna mendorong toleransi dan saling pengertian antarumat beragama. Di bidang pendidikan, HWPL berhasil memasukkan materi Peace Education ke dalam kurikulum nasional Timor-Leste. Kampanye penyatuan damai Korea bertajuk “Donghaeng: Menghubungkan Korea” pun semakin luas jangkauannya berkat kolaborasi dengan pemerintah daerah di berbagai wilayah.

Pertumbuhan dan Komitmen Masyarakat Dunia

HWPL mencatat lonjakan signifikan dalam jumlah anggota, dari 500.000 orang pada tahun lalu menjadi lebih dari 700.000 orang tahun ini. Pertumbuhan ini mencerminkan meningkatnya kesadaran masyarakat dunia akan pentingnya keterlibatan aktif dalam menciptakan dunia yang damai.

Pesan Ketua HWPL, Lee Man Hee, pada peringatan sembilan tahun DPCW beberapa bulan lalu kembali ditekankan:

> “Kita bukan orang asing bagi perdamaian. Kitalah pelakunya, dan kita sendiri adalah perdamaian itu. Mari kita bawa masyarakat global menuju dunia yang damai.”

Gerakan Perdamaian Mendunia

Selain acara utama di Korea Selatan, peringatan serupa juga akan digelar di 66 lokasi di 60 negara hingga Oktober 2025. Diperkirakan lebih dari 13.000 peserta akan turut ambil bagian. Rangkaian kegiatan ini bertujuan memperkuat jaringan perdamaian di tingkat lokal sekaligus mengajak seluruh elemen masyarakat dunia untuk bersatu mewujudkan masa depan yang damai dan berkeadilan bagi seluruh umat manusia.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA
x
Enable Notifications OK No thanks