Oleh : Dudy Imanuddin Effendi
OPINI, HaluanIndonesia.id – Betul kata pepatah, satu sisi uang itu bisa menjadi berkah dan melahirkan kebahagiaan. Tetapi sisi yang lainnya bisa menjadi malapetaka saat caranya tidak benar dan salah pengunaannya.
Konon kata Benjamin Disraeli dalam karya sastranya “Sybil”, satu-satunya hal yang bisa membuat orang mabuk kepayang selain cinta adalah uang.”
Jika sudah dimabukkan oleh uang maka matanya akan gelap dan tingkat kerelaan hidupnya menjadi sirna. Semua yang dilakukannya akan diukur dengan konvensasi dalam bentuk uang. Maka saat seperti ini, Francis Bacon dalam “Instauratio Magna”, telah menyebutkan bahwa “money is a great servant but a bad master.” Katanya, kadang uang dapat menjadi pelayan yang baik tapi jika salah menempatkannya bisa menjadi majikan yang buruk, Majikan yang bisa mengerakkan hati menjadi kasar dan perilaku menjadi korup.
Dalam karya lainnya yakni, “Novum Organum”, uang bahkan bisa melahirkan kekeliruan dalam menjalani kehidupan. Kekeliruan akibat pemikiran sempit yang diakibatkan oleh hilangnya kesadaran atas pengetahuan terhadap hubungan sebab-akibat yang melahirkan dampak fakta-fakta. Semisal, jika seseorang mengunakan dana publik atau dana untuk kepentingan kolektif secara keliru dan pribadi, maka sebetulnya ia sedang lupa bahwa “apa yang telah dilakukannya” akan berdampak kepada persepsi publik terhadap dirinya dan bahkan bisa berkonsekuensi terkuburnya martabat serta integritas dirinya. Bahkan jauhnya akan memiskinkan rakyat. Persepsi publik yang berakibat pada lahirnya “cacat moral” yang disebabkan oleh kekeliruan memposisikan dana milik publik atau milik kolektif.
Dalam dunia interaksi sosial, jika seseorang salah memposisikan uang maka bisa berakibat pada hilangnya ikatan persahabatan yang sudah terjalin lama dan baik. Kata Samuel Butler dalam, “The Way of All Flesh”, kadang karena uang, seseorang sulit mempertahankan nilai-nilai persahabatan. Karena uang, seseorang bisa menjadi abai, tidak peka dan bahkan berani melukai aspek-aspek kebaikan yang ada dalam ruang perrsaudaraan. Seseorang karena uang menurut Butler bisa menjadi munafik dalam pergaulan dan persahabatan sosial. Hilang tingkat ketulusan dan setiap langkahnya selalu diperhitungkan dengan konvensasi uang.
Dalam hal ini, kata Eleanor Roosevelt, dalam “You Learn by Living”, ditegaskan bahwa kamu yang kehilangan uang, maka akan merasa kehilangan banyak uang; Kamu yang salah menempatkan uang akan kehilangan banyak teman; Bahkan kamu yang sedang keliru mengunakan uang akan kehilangan iman. Dan saat kehilangan iman maka kamu akan kehilangan segalanya.
Dalam.perspektif Islam, uang atau harta adalah salah satu bagian dari perhiasan dunia. Jika kedua mata (mata fisik dan bathin) seseorang tertutup oleh uang atau harta maka perilakunya bisa melampui batas akibat menuruti hawa nafsunya. Betul kata surat al Kahfi ayat 29, “…dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas”.
Isyarat alqur’an ini secara tidak langsung mengajak manusia beriman untuk berhati-hati memposisikan uang atau harta. Jika benar maka akan tetap terpelihara perilaku baiknya. Dan jika salah atau keliru maka akan melahirkan perilaku melampaui batas. Dan jika sudah melampaui.batas maka martabat kemanusiaan sejatinya akan menjadi jatuh di hadapan Alloh dan manusia.
Catatan sederhana ini, semoga menjadi renungan bersama sebagai anak bangsa dalam menposisikan dan mengunakan dana publik yang berkaitan dengan hajat orang banyak. Catatan sederhana saat ditulis di pantai sengigi lombok yang semakin menguatkan keindahan ciptaan Alloh, “…rabbana ma khalaqta haza batila, sub-hanakaa faqina ‘azaban-nar (QS. Ali Imran: 191. Keindahan yang bisa menghantarkan pada kesadaran terbaik sebagai hamba Alloh.***
Penulis adalah Ketua Prodi Bimbingan Penyuluhan Islam (BPI) FDK UIN SGD Bandung.
Tidak ada komentar