
Depok. halusnindonesia.id – Idul Fitri merupakan momen puncak dari perjuangan kita selama sebulan penuh berpuasa di bulan suci Ramadan. Puasa ini adalah upaya kita untuk kembali kepada fitrah, kesucian asli yang Allah berikan kepada manusia. Semuanya ini bisa kita lakukan berkat bimbingan Allah yang telah menunjukkan jalan dan memberi kesempatan untuk beribadah dengan sungguh-sungguh di bulan Ramadan.
Di balik kemeriahan Idul Fitri, terdapat makna dan hakikat yang mendalam, erat kaitannya dengan ajaran dasar Islam. Bagi kaum beriman, Idul Fitri bukan sekadar perayaan, melainkan peristiwa sentral yang sarat makna.
Ibnu Rajab al-Hanbali, dalam kitab Lataif al-Ma’arif, halaman 277 mengatakan bahwa makna Idul Fitri bukan hanya tentang memakai baju baru, melainkan tentang meningkatkan ketaatan kepada Allah SWT. Idul Fitri yang sesungguhnya bukan tentang berhias diri dengan pakaian dan kendaraan baru, melainkan tentang mendapatkan ampunan dosa dari Allah SWT.
لَيْسَ الْعِيْدُ لِمَنْ لَبِسَ الْجَدِيْدِ اِنَّـمَا الْعِيْدُ لِمَنْ طَاعَتُهُ تَزِيْدُ وَلَيْسَ الْعِيْدُ لِمَنْ تَجَمَّلَ بِاللِبَاسِ وَالْمَرْكُوْبِ اِنَّـمَا الْعيْدُ لِمَنْ غَفَرَتْ لَهُ الذُّنُوْبُ
Artinya; “Bukanlah hari raya bagi orang yang memakai baju baru, melainkan hari raya bagi orang yang ketaatannya bertambah. Bukanlah hari raya bagi orang yang bersolek dengan pakaian dan kendaraan, melainkan hari raya bagi orang yang diampuni dosanya.”
Dengan demikian, seseorang yang ber-idul fitri dalam arti kembali ke kesuciannya akan selalu berbuat yang indah, benar, dan baik. Ia akan menjadi pribadi yang adil, jujur, dan penuh kasih sayang. Ia juga akan menjadi pribadi yang membawa manfaat dan kebaikan bagi orang lain, serta memancarkan keindahan hati dan jiwa melalui akhlak mulianya. (NS/Arif).

Tidak ada komentar