Jelang Muktamar NU, MA IPNU Tegaskan Persatuan Lebih Penting dari Perebutan Jabatan

Deni Wijaya
2 minggu lalu
Lihat Semua
Disalin

Haluanindonesia.id – Majelis Alumni Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (MA IPNU) menggelar Silaturahmi Nasional (Silatnas) 2026 yang mempertemukan sejumlah tokoh Nahdlatul Ulama (NU) yang digadang-gadang menjadi calon Ketua Umum PBNU pada Muktamar ke-35.

Forum yang berlangsung dibingkai Silatnas MA IPNU Menyambut Muktamar NU ke-35 dengan tema “Kepemimpinan NU yang Adaptif Terhadap Perubahan Sosial” di Jakarta, Jumat (7/8/2026).

Acara ini menjadi ruang dialog untuk membangun komitmen bersama menjaga persatuan jam’iyah serta memastikan Muktamar NU berlangsung damai, bermartabat, dan penuh kegembiraan.

Ketua Umum Majelis Alumni Nahdlatul Ulama (MA IPNU), Profesor Assroun Ni’am mengatakan, MA IPNU hadir menjembatani generasi sebelumnya dengan generasi Alpha yang akan memimpin NU kedepan.

“Majelis Alumni IPNU hadir menjembatani bagi Nahdlatul Ulama di abad keduanya,” ungkapnya.

Kata Ni’am, Muktamar ke-35 ini bukan hanya jam’iyah tapi juga milik jamaah. Karena momentum ini sangat ditunggu tidak hanya dari dalam saja tapi juga luar negeri.

“Rombongan resmi paling banter 500 kali 4 sama dengan 2 ribu, tapi Romlah atau Rombongan Lilllahita’ala jumlahnya bisa mencapai puluhan ribu. Kita lihat, harga sewa rumah di Jombang perhari melebih sewa di Menteng Jakarta,” ujar Ketua MUI ini.

Ada beberapa catatan muncul dalam menyikapi perhelatan di Jombang 27 – 31 Agustus. Antara lain:

Calon Ketua Umum Tak Persoalkan Sistem Pemilihan

Dalam forum tersebut mengemuka kesepahaman bahwa seluruh figur yang hadir tidak mempermasalahkan sistem pemilihan Ketua Umum PBNU.

Bagi para tokoh NU, yang jauh lebih penting adalah menjaga marwah organisasi dan memastikan seluruh proses Muktamar berjalan sesuai mekanisme organisasi yang berlaku.

Silatnas juga menghasilkan semangat bersama agar kontestasi kepemimpinan tidak menimbulkan perpecahan di tubuh Nahdlatul Ulama.

NU Dinilai Butuh Manajer yang Andal

Selain membahas mekanisme pemilihan, forum juga menyoroti tantangan NU memasuki abad kedua.

Para peserta berpandangan bahwa organisasi sebesar NU membutuhkan sosok pemimpin yang tidak hanya memiliki kapasitas keilmuan dan ketokohan, tetapi juga kemampuan manajerial yang kuat untuk mengelola organisasi secara profesional.

Kepemimpinan yang adaptif dinilai menjadi modal penting agar NU mampu menjawab berbagai tantangan kebangsaan, sosial, ekonomi, hingga perkembangan teknologi.

Kader Pesantren dan Pergerakan Dinilai Layak Memimpin

Silatnas MA IPNU juga menegaskan pentingnya regenerasi kepemimpinan NU yang lahir dari tradisi pesantren dan proses kaderisasi organisasi.

Forum menilai NU perlu dipimpin oleh kader-kader yang tumbuh dari lingkungan pesantren sekaligus ditempa melalui organisasi kader seperti IPNU, PMII, dan GP Ansor sehingga memahami karakter, kultur, serta dinamika jam’iyah secara utuh.

Muktamar Harus Riang Gembira

Salah satu pesan yang mengemuka dalam Silatnas adalah ajakan agar Muktamar NU menjadi pesta demokrasi yang penuh persaudaraan.

Seluruh peserta sepakat tidak boleh ada praktik saling menjegal ataupun upaya yang berpotensi memecah belah warga NU.

Semangat siap menang, siap kalah menjadi komitmen yang terus digaungkan. Siapa pun yang terpilih sebagai Ketua Umum PBNU nantinya harus didukung bersama, sementara yang belum mendapatkan amanah tetap dirangkul sebagai bagian dari kekuatan besar Nahdlatul Ulama.

Ketua IPNU Jawa Timur periode 1988 -1992, Sudarsono Rahman mengatakan, Muktamar bukan sekadar ajang memilih pemimpin, melainkan momentum memperkuat persatuan organisasi.

“Bukan persoalan siapa tokoh yang akan memimpin NU, tapi, dari ajang ini mari kesolidan antar lini semakin kuat hingga ke akar rumput,” tegas aktivis NU Jawa Timur tersebut.

Menurutnya, NU membutuhkan kepemimpinan yang mampu merangkul seluruh elemen dan menjaga tradisi musyawarah yang menjadi ciri khas Nahdlatul Ulama.

“Semangat persaudaraan yang terbangun dalam Silatnas MA IPNU dapat menjadi modal penting untuk mewujudkan Muktamar NU yang sejuk, demokratis, dan membawa kemaslahatan bagi jam’iyah serta bangsa Indonesia,” pungkasnya.

 

 

Sumber : Journalnusantara.com
Red : Mulyana

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

xOneNews premium broadcast banner
xOneNews premium broadcast banner
xOneNews premium broadcast banner