

Foto : Dengan penuh semangat, tim MBG Yayasan Rexchelin Ignite Group bekerja sama menyiapkan ratusan porsi makanan bergizi untuk program distribusi gratis di Cipanas.
haluanindonesia.id–Siang itu, suasana di Cipanas terasa lebih hangat dari biasanya. Bukan karena cuaca, tapi karena gelora semangat dari Yayasan Rexchelin Ignite Group yang tengah bersiap memulai satu gerakan kecil namun penuh makna berbagi makanan sehat gratis untuk anak-anak sekolah.
yayasan yang digagas oleh Feny Maryenty Bur, S.Keb., ini menggelar tasyakuran sederhana dan silaturahmi bersama para pemangku kepentingan. Bukan acara opening seremonial megah, melainkan forum rasa syukur yang sarat makna menjelang dimulainya penyaluran program Makan Bergizi Gratis (MBG) di sejumlah desa di Kecamatan Cipanas, Kabupaten Cianjur.
“Ini bukan peresmian atau opening seremonial Kita hanya ingin berbagi kebersamaan, bersilaturahmi dengan para stakeholder yang nanti akan terlibat dalam program ini,” ujar Feny kepada wartawan, dengan wajah penuh antusias.(Rabu, 11 Juni 2025)
Program MBG akan menyasar delapan sekolah dasar dan menengah pertama yang berada dalam radius sekitar tiga kilometer dari dapur utama yayasan. Menurut Feny, penentuan wilayah distribusi ini dipertimbangkan secara cermat agar kualitas makanan bisa tetap terjaga dan pengawasan distribusi berlangsung efektif.
“Kami ingin program ini tepat sasaran, efisien, dan tentu saja aman. Fokus kami saat ini memang pada anak-anak SD dan SMP, karena kelompok ini sangat rawan kekurangan gizi tapi jumlahnya juga banyak di wilayah kami,” jelasnya.
Tak hanya soal siapa yang menerima makanan, tetapi juga bagaimana makanan itu dipersiapkan menjadi perhatian utama yayasan. Feny, yang berlatar belakang di bidang kesehatan, menaruh perhatian besar terhadap proses produksi makanan yang higienis dan sesuai standar keamanan pangan.
“Banyak kasus keracunan makanan sekolah yang belakangan viral. Itu jadi pelajaran. Maka kami putuskan untuk menerapkan sistem dua kali masak: subuh untuk pengantaran pagi, lalu masak lagi pagi hari untuk pengantaran siang,” kata Feny. Ia menyebut langkah itu ditempuh untuk mencegah makanan kehilangan kesegarannya atau terkontaminasi uap panas saat dikemas.
Di dapur mereka, setiap langkah dilakukan dengan perhitungan ketat mulai dari pemilihan bahan baku, teknik memasak, hingga waktu distribusi. Feny memastikan seluruh tim telah dibekali pengetahuan mengenai sanitasi makanan dan prosedur distribusi aman. Bahkan kemasan pun dirancang khusus agar makanan tetap dalam suhu ideal hingga tiba di tangan anak-anak sekolah.
“Ini bukan cuma soal mengenyangkan. Ini soal membangun generasi yang lebih sehat, lebih kuat,” tuturnya.
Yayasan Rexchelin Ignite Group berharap program ini bisa menjadi prototipe. Jika lancar, mereka siap memperluas jangkauan dan membangun dapur-dapur baru di lokasi lain. Feny bahkan sudah mulai menyusun skema kerja sama dengan pihak lain agar program ini berkesinambungan dan tidak berhenti di Cipanas saja.
“Target kami bukan cuma satu dapur. Kami ingin ada dapur kedua, ketiga, dan seterusnya. Kalau gerakan ini bisa diperluas, kami yakin bisa membantu menurunkan angka stunting di banyak tempat,” ucapnya.
Tasyakuran hari itu ditutup dengan doa bersama dan ramah tamah. Di balik sajian sederhana yang dihidangkan, tersimpan harapan besar agar anak-anak sekolah bisa makan lebih bergizi, lebih layak, dan tumbuh menjadi generasi tangguh.***

Tidak ada komentar