Diduga Sebabkan Dentuman Misterius di Bandung, Ini Jejak Panjang Aktivitas Vulkanik Anak Krakatau

Deni Wijaya
2 hari lalu
Lihat Semua
Disalin

Haluanindonesia.id- Sebagian publik di media sosial, tengah ramai menyoroti fenomena suara dentuman yang membayangi warga di kawasan Bandung Raya, Jawa Barat pada Sabtu, 5 September 2026 dini hari.

Dalam unggahan Instagram @infojawabarat, pada Sabtu, 5 September 2026, warga di kawasan Bandung Raya dan sekitarnya dihebohkan oleh fenomena suara dentuman misterius yang berulang.

“Tak sekadar dentuman keras, suara tersebut bahkan membuat kaca jendela dan pintu rumah warga ikut bergetar dalam durasi yang cukup lama,” tulis postingan tersebut.

Terpantau, banyak video yang dibagikan oleh warga saat fenomena tersebut terjadi.

Bahkan hingga pukul 06.30 WIB pagi, getaran dilaporkan masih terasa di beberapa daerah.

Hingga saat ini, belum ada informasi resmi dari pihak terkait tentang hal ini.

Di sisi lain, data pemantauan Stasiun Geofisika Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), tidak mencatat adanya aktivitas gempa tektonik lokal di wilayah Jawa Barat pada kurun waktu kejadian tersebut.

Atas kasus tersebut, Badan Geologi menyoroti adanya dugaan keterkaitan antara suara dentuman yang dilaporkan masyarakat dengan aktivitas Gunung Anak Krakatau.

Muncul pada Waktu Bersamaan

Secara terpisah, Kepala Badan Geologi, Lana Saria menyebut kedua peristiwa itu terjadi pada waktu yang bersamaan.

“Suara dentuman dan getaran yang dilaporkan masyarakat di Jabar, Banten, dan Lampung diduga berkaitan dengan aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau,” kata Lana dalam keterangannya, pada Sabtu, 5 September 2026.

“(Hal itu) karena berlangsung pada waktu bersamaan,” kata sambungnya.

Badan Geologi mencatat aktivitas erupsi yang cukup intens terjadi pada Jumat, 4 September 2026 malam hingga Sabtu, 5 September 2026 dini hari.

Alami Erupsi Disertai Gemuruh

Sebelumnya diketahui, erupsi gunung tersebut dipantau melalui dua pos pengamatan.

Hal tersebut, yakni pada Pos Pengamatan Gunung Api Anak Krakatau di Kalianda, Lampung Selatan, serta Pos Pengamatan Gunung Api Anak Krakatau di Pasauran, Kabupaten Serang, Banten.

Lana mengungkapkan, saat itu Gunung Anak Krakatau mengalami erupsi terus-menerus yang disertai suara gemuruh selama beberapa jam.

“Pada tanggal 5 September 2026 pukul 23.07 WIB, Gunungapi Anak Krakatau mengalami erupsi menerus yang disertai dengan suara gemuruh,” ungkapnya.

“Tinggi kolom erupsi tidak teramati, akan tetapi warna merah menyala semburan erupsi terlihat jelas secara menerus,” papar Lana.

Meski demikian, Badan Geologi memastikan hingga saat ini pertumbuhan kembali tubuh Gunung Anak Krakatau pascaerupsi 2018 masih relatif kecil dan tidak berpotensi menyebabkan keruntuhan besar yang dapat memicu tsunami.

Sejarah Panjang Erupsi Anak Krakatau

Sebagai catatan, Gunung Anak Krakatau sendiri merupakan gunung api aktif tipe A yang berada di perairan Selat Sunda.

Secara administratif, wilayah tersebut masuk ke Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung.

Berkaca dari hal itu, Anak Krakatau memiliki sejarah panjang aktivitas vulkanik.

Erupsi besar pada 1883 menjadi salah satu peristiwa vulkanik paling dahsyat dalam sejarah dan memicu tsunami.

Peristiwa serupa kembali terjadi pada 22 Desember 2018, yang saat itu disertai longsoran sebagian tubuh gunung yang memicu tsunami di kawasan Selat Sunda.

Setelah kejadian tersebut, Gunung Anak Krakatau terus mengalami serangkaian erupsi berskala rendah sebagai bagian dari fase pertumbuhan kembali tubuh gunung hingga 16 Desember 2023.

Anak Krakatau Kini Berstatus Siaga

Setelah sempat mengalami jeda erupsi cukup lama, aktivitas Anak Krakatau kembali meningkat pada 2 Juli 2026.

Lana menyebut, sejak saat itu, status aktivitas Gunung Anak Krakatau ditetapkan pada Level III atau Siaga.

“Sejak 2 Juli 2026, status aktivitas Gunungapi Anak Krakatau berada pada Level III (Siaga),” terang Lana.

“Seri erupsi tipe Strombolian yang menghasilkan lontaran batu pijar dan abu vulkanik terus berlangsung hingga tanggal 5 September 2026,” tandasnya.*

Red (Indra)
Sumber:Journalnusantara.com

 

Bantu Bangkitkan Media & Jurnalis Terdampak Gempa NTT

Promedia Group berkolaborasi dengan Yayasan Permata Flores memfasilitasi dukungan bagi jurnalis dan media lokal yang terdampak bencana gempa bumi di Nusa Tenggara Timur.

Dukungan Anda sangat berarti untuk membantu pemulihan sarana serta operasional para jurnalis di lapangan. Bantuan dana tali asih dapat disalurkan melalui:

Bank BRI: 225701005978532
a.n. Yayasan Permata Flores

Mari bersatu padu membantu para pejuang informasi kembali berkarya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

xOneNews premium broadcast banner
xOneNews premium broadcast banner
xOneNews premium broadcast banner