Dampak Tragis Karhutla, BKSDA Kalsel Ungkap 12 Bekantan Mati Terbakar di Kalimantan Selatan

Deni Wijaya
4 hari lalu
Lihat Semua
Disalin

Haluanindonesia.id – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih melanda sejumlah wilayah di Kalimantan Selatan.

Titik api dan dampak kabut asap masih dirasakan oleh warga yang tinggal di Kalimantan Selatan.

Dampak kebakaran tersebut juga mengganggu kehidupan satwa liar ketika hutan mulai dilalap si jago merah.

Kematian Satwa Akibat Karhutla

Baru-baru ini, Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kalimantan Selatan (BKSDA Kalsel) melaporkan kematian satwa di Desa Balimau, Kecamatan Kalumpang, Kabupaten Hulu Sungai Selatan.

Area tersebut mengalami kebakaran lahan pada Minggu, 13 Desember 2026 dan Tim Rescue Satwa BKSDA kalsel melakukan pengecekan pada keesokan harinya, Senin,14 September 2026.

Tim menemukan satwa yang mati akibat kebakaran lahan, terdiri dari 12 ekor bekantan, 1 ekor ular piton dan 1 ekor ular king kobra.

Habitat satwa di lokasi kejadian merupakan APL (areal penggunaan lain) atau area di luar kawasan hutan, yang terdiri dari tanah desa yang memiliki luas kurang lebih 8 hektare dengan tutupan vegetasi yang terdiri dari semak, galam, renghas, bungur dan halaban, dan tanah milik dengan luas kurang lebih 1,3 hektare.

Kebakaran di Area Tempat Tinggal Bekantan

Lebih lanjut, area yang terbakar merupakan tanah desa dan hak milik dengan populasi puluhan bekantan di dalamnya.

“Dari keterangan Kepala Desa Balimau terdapat sekitar 60 ekor bekantan di kawasan tersebut, namun jumlah populasi itu masih perlu diverifikasi BKSDA melalui pemantauan lapangan setelah kebakaran melanda habitat satwa dilindungi tersebut,” kata Kepala BKSDA Kalsel Agus Ngurah Krisna dalam keterangannya, dikutip pada Rabu, 16 April 2026.

Adapun menurut data bekantan dari BKSDA Kalsel, pada tahun 2025 ada sebanyak 3.757 ekor yang tersebar di 11 kabupaten atau kota di Kalimantan Selatan baik di dalam kawasan konservasi maupun di luar kawasan konservasi.

Sementara di kawasan konservasi, tercatat 1.281 ekor bekantan yang tersebar di 12 kawasan konservasi dengan tipe ekosistem mangrove dan dataran rendah.

Penanganan Karhutla Kalsel Libatkan Satgas Udara

Sementara itu, data BPBD Kalsel lainnya mengenai karhutla selama periode 1 September sampai dengan 14 September 2026, jumlah kejadian kebakaran hutan dan lahan di Kalsel adalah sebanyak 3.220 kali.

Luas lahan yang terbakar diperkirakan mencapai 21.414,43 hektar hektare dengan Kabupaten Hulu Sungai Selatan menjadi salah satu dari tiga kabupaten atau kota dengan luasan terbakar terluas, yakni 3.786,71 hektare.

Upaya penanganan kebakaran di Kalsel juga melibatkan satgas udara dengan melibatkan 3 unit helikopter.

Dua unit akan disiagakan untuk penanganan Karhutla di kawasan Ring 1 Bandara Syamsudin Noor dan satu unit lainnya disiapkan untuk memberikan bantuan apabila terdapat permintaan penanganan di luar wilayah tersebut.

“Dari BMKG untuk informasi setiap pagi, saat ini belum ada potensi awan hujan yang terpantau. Jadi untuk sementara belum ada rencana operasi OMC,” ujar Kepala Subbid Kesiapsiagaan Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kalsel, Ariansyah pada Selasa, 15 September 2026.

“Kita berjaga-jaga untuk kesiapsiagaan kita. Apabila nanti terpantau adanya potensi awan hujan, maka kita akan aktifkan kembali atau usulkan kembali untuk operasi modifikasi cuaca,” tukasnya.

 

Sumber : Journalnusantara.com

Red : Mulyana

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

xOneNews premium broadcast banner
xOneNews premium broadcast banner
xOneNews premium broadcast banner