
Haluanindonesia.id – Beredar viral sebuah video yang menampilkan gaya sejumlah wanita yang diduga istri pejabat di Kalimantan Selatan (Kalsel), dikipas-kipas perempuan muda di sekitarnya.
Sebelumnya, hal ini memicu perhatian sebagian kalangan yang menilai pelayanan itu dinilai berlebihan, meski diklaim sebagai sebuah tradisi.
Dalam video yang beredar, peristiwa itu disorot karena berlangsung saat acara peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di wilayah Banua Lawas, Tabalong.
Saat sedang makan, mereka terlihat dikipas-kipas oleh para perempuan muda, dengan narasi layaknya pelayanan bagi Ratu Mesir.
Kini, viralnya peristiwa itu membuat Camat Banua Lawas, Arianto ikut bicara.
Arianto mengklaim hal tersebut hanyalah sebagai bentuk penghormatan dalam sebuah tradisi turun-temurun.
Batalam Bakipas Pangeran
Dalam penuturannya, Arianto menjelaskan tradisi tersebut dinamakan “Makan Batalam Bakipas Pangeran” yang sudah diakui oleh Kementerian Kebudayaan RI.
Berdasarkan laporan di lapangan, acara itu sempat digelar di Banua Lawas, Tabalong, Kalsel, pada Senin, 14 September 2026.
Arianto mengatakan, Makan Batalam adalah tradisi religius berupa makan bersama dalam satu nampan besar.
Camat Banua Lawas itu mengklaim, tradisi ini sudah dilakukan oleh masyarakat Tabalong secara turun-temurun.
“Kegiatan seperti ini sudah ada sejak lebih dari satu abad lalu dan diwariskan secara turun-temurun oleh nenek moyang,” kata Arianto dikutip dalam keterangannya, pada Jumat, 18 September 2026.
Diklaim Bukan Tradisi Feodal
Arianto menyebut, Bakipas Pangeran berarti mengipasi pangeran yang merujuk pada tokoh bangsawan atau kerajaan.
Dalam konteks tradisi Batalam, istilah ini disebut berkaitan dengan penghormatan dan pelayanan kepada tamu yang dianggap penting.
Oleh karena itu, Arianto meminta publik untuk tidak langsung memaknai hal tersebut sebagai tradisi feodal.
Sebab, tradisi Batalam tidak hanya menjadi acara makan, tetapi juga menjadi ruang sosial untuk perjamuan, perkumpulan, dan menghormati tamu.
“Ketika tradisi itu berkembang ke dalam kegiatan Maulid Nabi, orientasinya juga berubah, mereka yang dihormati bukan lagi semata-mata status bangsawan,” beber Arianto.
Dalam perkembangannya, tradisi ini dinilai telah berbaur dengan kehidupan masyarakat dan nilai-nilai Islam.
“Tetapi sebagai para ulama, guru agama, tokoh masyarakat, tamu, dan seluruh warga dalam suasana kebersamaan,” tandasnya.
Sumber : Journalnusantara.com
Red : Mulyana
Bantu Bangkitkan Media & Jurnalis Terdampak Gempa NTT
Promedia Group berkolaborasi dengan Yayasan Permata Flores memfasilitasi dukungan bagi jurnalis dan media lokal yang terdampak bencana gempa bumi di Nusa Tenggara Timur.
Dukungan Anda sangat berarti untuk membantu pemulihan sarana serta operasional para jurnalis di lapangan. Bantuan dana tali asih dapat disalurkan melalui:
Bank BRI: 225701005978532
a.n. Yayasan Permata Flores
Mari bersatu padu membantu para pejuang informasi kembali berkarya.
Tinggalkan Balasan