Oleh : Dudy Imanuddin Efendi
OPINI, HaluanIndonesia.id – Dalam urusan kepentingan politik, baik skala luas mampu kecil, sepertinya sebagian orang sudah biasa melakukan cara-cara yang tidak sehat. Kadang sadar atau tidak sadar mudah mengumbar informasi atau pendapatnya yang jauh dari kebenaran. Tidak peduli selalu merekayasa cerita fiktif atau melakukan kebohongan, yang penting kepentingan pribadinya bisa tercapai walau harus menafikan, mendeskriditkan, mendistorsi, menipu dan bahkan mengkriminalisasi orang lain yang dianggap kompetitornya. Cara-cara yang tidak berbudaya, beretika dan bahkan jauh dari nilai-nilai luhur agama seakan-akan menjadi biasa dan halal dilakukan demi pencapaian ambisi kepentingan pribadinya. Berekspresi dan bereksperimen dihadapan orang lain atau publik ketika dirinya dilumat kepentingan nafsu kekuasaan, jabatan dan bahkan status sosial kadang urusan benar atau salah, jujur atau bohong menjadi hal yang kurang perhatikan oleh sipemilik kepentingan.
Sebagian gambaran faktual saat ini, kadang sebagian kecil orang untuk meraih kepentingan pribadi selalu mengkapitalisasi kebohongan atau ketidakjujuran demi mendapat kepercayaan dari orang lain atau publik. Kapitalisasi kebohongan atau ketidakjujuran demi meraih kepentingan pribadi tentu akan melahirkan post-truth (kebohongan yang menyamar kebenaran), yang dampaknya bukan hanya menyesatkan sipenerima distribusi informasi dan sipenerima utama bahkan bisa mengorbankan orang-orang yang baik, tulus dan tidak berdosa. Kenapa? Karena orang-orang tersebut pada akhirnya akan tergiring tanpa sadar pada perilaku sipembuat atau pelembar informasi yang memiliki ambisi pribadi dengan cara mengkapitalisasi kebohongan atau ketidakjujuran. Dimana mereka akhirnya tanpa sadar karena mengkonsumsi informasi yang keliru menjadi ikut-ikutan menafikan, mendeskriditkan, mendistorsi, menipu dan bahkan mengkriminalisasi orang lain yang menjadi bidikan atau kompetitor sipembuat atau pelempar informasi tersebut.
Pertimbangan dosa, tidak berdosa, salah, benar, halal, haram, boleh, tidak boleh menjadi samar ketika praktek kapitalisasi kebohongan dilakukan oleh seseorang hanya untuk mengejar kepentingan pribadinya. Dalam konteks ini, sepertinya shalat hanya sebatas gerak fisik, dzikir hanya sebatas tenggorokan, puasa hanya sebatas lapar dan haus, doa hanya sebatas kalimat pasif sebab tidak berdampak pada kebaikan perilaku hidup sehari-harinya.

Douglas R Campbell (2021), dalam “Self Motion and Cognition: Plato’s Theory of the Soul” mencutat pernyataan Plato tentang kapitalisasi kebohongan ini, “False words are not only evil in themselves, but they infect the soul with evil”. Kebohongan adalah penciptaan kata-kata palsu yang tidak hanya jahat bersemanyam dalam diri sendiri, tapi juga menginfeksi jiwa-jiwa yang lain dengan kejahatan. Kata Baltasar Gracian (edisi akhir 2010) dalam “The Art of Worldly Wisdom”, walau kebohongan itu awalnya tertutup dan aman akan tetapi saatnya akan menghancurkan reputasi integritas sipembuatnya. Kata Baltasar, “A single lie destroys a whole reputation of integrity.” Bahkan Imanuel Kant dalam teori moral (imperatif kategoris) menyatakan dengan tegas bahwa, “by a lie, a man… annihilates his dignity as a man.” Pencapaian seseorang mendapatkan suatu melalui suatu kebohongan, hakikatnya ia sedang memusnahkan martabatnya sebagai seseorang manusia yang bermoral. Khaled Hosseini (2003), dalam “The Kite Runner”, menyebutkan bahwa Ketika seseorang berbohong, hakikatnya ia sedang mencuri hak seseorang atas kebenaran (When someone tell a lie, you steal someone’s right to the truth).
Kapitalisasi kebohongan, semisal calon presiden atau seseorang tidak diterima di kalangan masyarakat tertentu padahal faktanya diterima, calon presiden atau seseorang ada masalah di lingkungan komunitasnya padahal faktanya tidak ada masalah, calon presiden atau seseorang tidak diterima dikalangan komunitasnya padahal faktanya diterima, calon presiden atau seseorang memiliki perilaku buruk padahal faktanya baik dan santun, sepertinya sudah lazim dilakukan oleh orang yang hatinya tersumbat oleh kepentingan pribadinya atau oleh ambisi akut menginginkan kekuasaan, jabatan, dan status sosial. Kapitalisasi kebohongan ini dilakukan, sepakat dengan Virginia Woolf dalam, “The Voyage Out”, bahwa berbohong umumnya dilakukan seorang saat terdesak sebuah dilema, supaya dipuji orang lain, buat menutupi kekurangan, menipu orang lain untuk memenuhi kepentingan diri pribadi/ Menurutnya, seorang yg sering berbohong umumnya menganggap tindakan ketidakjujuran bisa merampungkan persoalan. Alih-alih menyelesaikan duduk perkara, justru menggunakan cara bohong akan memperumit dirinya dikemudian hari karena ia telah memutarbalikan fakta yang sebenarnya.
Dalam menyikapi fenomena perilaku mengkapitalisasi kebohongan demi raihan kepentingan pribadi, al-qur’an telah memberi isyarat yang jelas kepada kita semua yakni: “Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong adalah golongan kamu, Janganlah kamu menganggapnya buruk bagi kamu, bahkan ia adalah baik bagi kamu, tiap-tiap orang dari mereka memperoleh apa yang dia kerjakan dari dosa itu, dan siapa yang mengambil bagian yang terbesar di dalamnya di antara mereka, bagian azab yang besar” (An-Nur 24: 11). “Dan seandainya bukan karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepadamu di dunia dan akhirat, niscaya kamu akan ditimpa azab yang besar, disebabkan oleh pembicaraanmu tentang (berita bohong) itu, ingatlah ketika kamu menerima (berita bohong) itu dari mulut ke mulut dan kamu katakan dari mulutmu itu apa yang tidak kamu ketahui sedikitpun, dan kamu menganggapnya remeh, padahal dalam pandangan Allah itu suatu perkara yang besar”. (QS. An-Nur 24: 14-15). Bahkan alqur’an telah memberi solusinya kepada kita, yakni: “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa berita maka periksalah dengan teliti (fa tabayyanu), agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa megetahui keadaan yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatan itu”. (QS. Al-Hujurat 49: 6).***
Penulis adalah Ketua Prodi Bimbingan Konseling Islam (BKI) FDK UIN SGD Bandung.
#Manusia Hening#kata lieKhaled Hosseini, “Better to get hurt by the truth than comforted with a lie” #belajarlah memiliki al ‘anah agar bisa berhati-hati dalam menyikapi suatu permasalahan dan informasi agar tidak terjebak pada perilaku dosa yang tidak disadari akibat adanya kebohongan yang dikapitalisasi#apalagi saat ini musim politik di pelbagai ruang kehidupan#kapitalisasi kebohongan, bukan hanya merusak diri sendiri tetapi juga bisa merusak persahabatan dan perkawanan sosial yang sudah terjalin baik#
Tidak ada komentar