Kelangkaan Singkong Kuning Mengancam Usaha Tape Singkong di Cianjur, Pelaku Usaha Harap Perhatian Pemerintah

Deni Wijaya
12 menit lalu
Lihat Semua
Disalin

CIANJUR, Haluanindonesia.id — Kelangkaan bahan baku singkong kuning mulai menjadi persoalan serius bagi para pelaku usaha tape singkong di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Kondisi tersebut tidak hanya menghambat proses produksi, tetapi juga turut berdampak terhadap pendapatan masyarakat yang menggantungkan penghasilan dari rantai usaha tape singkong.

Salah seorang pelaku usaha tape singkong, Ayi, warga Cibeber, Kabupaten Cianjur, mengatakan ketersediaan singkong kuning yang menjadi bahan baku utama pembuatan tape saat ini semakin sulit diperoleh.

Menurut Ayi, kondisi tersebut membuat para pengrajin harus bekerja lebih keras untuk mendapatkan bahan baku dengan kualitas yang sesuai. Bahkan, ketika singkong tersedia, harga yang harus dibayarkan cenderung lebih tinggi sehingga ikut meningkatkan biaya produksi.

“Singkong kuning sekarang semakin sulit didapat. Padahal, bahan baku ini merupakan bagian utama dalam produksi tape. Kalau bahan bakunya sulit, produksi kami juga ikut terganggu,” ujar Ayi saat ditemui Haluanindonesia.id.

Ia menjelaskan, persoalan tersebut tidak hanya dirasakan oleh pengusaha tape. Menurutnya, usaha tape singkong melibatkan banyak pihak yang saling berkaitan, mulai dari petani dan pengrajin, pegawai produksi, sopir pengantar, hingga para pedagang.

Ketika produksi menurun akibat keterbatasan bahan baku, pendapatan pihak-pihak yang terlibat dalam rantai usaha tersebut juga ikut terpengaruh.

“Yang terdampak bukan hanya pengrajin. Ada pegawai, sopir yang mengantarkan barang, pedagang, dan pihak lainnya. Kalau produksi berkurang, otomatis penghasilan mereka juga ikut berkurang,” kata Ayi.

Di sisi lain, kenaikan biaya bahan baku juga menjadi tantangan tersendiri bagi pelaku usaha. Pengrajin dihadapkan pada pilihan antara menaikkan harga jual atau mengurangi keuntungan agar harga tape tetap dapat dijangkau konsumen.

Ayi mengatakan, para pelaku usaha selama ini telah berupaya mencari pasokan singkong dari sejumlah daerah. Namun, upaya tersebut belum sepenuhnya mampu mengatasi persoalan karena ketersediaan singkong kuning yang sesuai untuk produksi tape masih terbatas.

Karena itu, ia berharap pemerintah dapat ikut turun tangan mencari solusi jangka panjang terhadap persoalan tersebut.

Menurutnya, salah satu langkah yang dapat dilakukan adalah mendorong pengembangan budidaya singkong kuning sekaligus mempertemukan petani dengan para pengrajin melalui pola kemitraan.

“Kami berharap pemerintah bisa membantu mencarikan solusi. Misalnya mendorong petani untuk menanam singkong kuning yang memang dibutuhkan pengrajin, kemudian ada kepastian pasar bagi petani,” tuturnya.

Ayi menilai, apabila tersedia pola kemitraan yang baik antara petani dan pengrajin, persoalan bahan baku dapat ditangani secara lebih berkelanjutan.

Petani mendapatkan kepastian pasar, sementara pengrajin memperoleh jaminan ketersediaan bahan baku. Pada akhirnya, keberlangsungan usaha juga dapat menjaga penghasilan para pekerja, sopir, pedagang, dan masyarakat lainnya yang terlibat.

“Kami tidak meminta solusi yang sifatnya hanya sementara. Kami berharap ada program yang bisa menjaga ketersediaan bahan baku dalam jangka panjang. Karena kalau usaha ini terus berjalan, banyak masyarakat yang ikut mendapatkan manfaat ekonominya,” ungkap Ayi.

Ia berharap persoalan kelangkaan singkong kuning tersebut dapat menjadi perhatian pemerintah daerah dan instansi terkait. Menurutnya, usaha tape singkong bukan sekadar kegiatan perdagangan makanan tradisional, tetapi telah menjadi bagian dari mata pencaharian masyarakat.

“Kami ingin usaha tape singkong tetap hidup dan berkembang. Mudah-mudahan pemerintah bisa melihat persoalan ini dan bersama-sama mencari jalan keluarnya,” pungkas Ayi.

Red (Indra)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

xOneNews premium broadcast banner
xOneNews premium broadcast banner
xOneNews premium broadcast banner