
Foto : Menyoroti penuturan tenaga kesehatan sekaligus publik figur, dr Gia yang menyoroti kasus komentar sinis oknum nakes terhadap pasien BPJS. (Instagram.com / @giapratamamd – @fakta.indo) Haluanindonesia.id – Sebagian publik di media sosial, sedang ramai menyoroti kasus cibiran oknum tenaga kesehatan (nakes) yang sempat dilontarkan terhadap almarhum pasien penerima bantuan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS), Yurizal Tri Caerawan.
Sebelumnya, kasus komentar bernada sinis sejumlah tenaga kesehatan terhadap pasien BPJS itu memicu reaksi di kalangan profesi medis.
Terkini, salah satu tanggapan itu datang dari dokter umum sekaligus kreator edukasi kesehatan, dr. Gia Pratama Putra.
Terlihat dalam unggahan di akun Instagram pribadinya, @giapratamamd, pada Kamis, 6 Agustus 2026, dr Gia mengajak rekan-rekan sejawatnya untuk kembali mengingat makna profesionalisme dan empati dalam melayani pasien.
Dokter Gia mengingatkan, jas putih yang dikenakan dokter maupun seragam tenaga kesehatan bukan sekadar identitas profesi, melainkan pengingat akan tanggung jawab moral dalam memberikan pelayanan.
“Teman-teman dokter, teman-teman nakes. Jas putih yang kita kenakan, seragam rumah sakit yang melekat di tubuh kita, sejatinya adalah pakaian penetral emosi,” ungkapnya.
Ngerti Lelah, tapi Itu Tanggung Jawab
Dokter Gia menilai, setiap tenaga kesehatan memang menghadapi tekanan pekerjaan yang besar.
Meski begitu, kondisi tersebut tidak boleh menjadi alasan untuk kehilangan empati kepada pasien.
Rekan sejawat dr Tirta itu lantas mengingatkan, dokter dan tenaga kesehatan mampu mengendalikan emosi ketika menghadapi berbagai situasi di fasilitas pelayanan kesehatan.
“Saat seragam itu dipakai, kita sedang mengingatkan diri sendiri bahwa segala lelah, kecewa, marah, dan segala tekanan yang kita rasakan, ada tanggung jawab besar untuk tetap bersikap profesional,” beber dr Gia.
Selelah-lelahnya Nakes, Lebih Lelah Pasien
Pada bagian akhir unggahannya, dr Gia menyampaikan kalimat yang menjadi refleksi atau pengingat untuk para nakes RI agar tak terulang lagi kasus serupa.
Bahkan, tidak sedikit warganet yang turut membagikan ulang kata-kata dari dr Gia itu hingga beredar luas di jagat maya.
“Karena selelah-lelahnya menjadi tenaga kesehatan, percayalah, masih lebih melelahkan menjadi pasien. Sakit itu tidak enak,” tulis dr Gia.
Unggahan itu dinilai mewakili harapan masyarakat agar pelayanan kesehatan tidak hanya mengedepankan kompetensi medis, tetapi juga empati dan penghormatan terhadap martabat pasien.
Kilas Keluhan Pasien Berujung Cibiran Nakes
Bagi yang belum tahu, refleksi tersebut muncul setelah viral komentar sejumlah dokter dan tenaga kesehatan terhadap unggahan Yurizal Tri Chaerawan di laman Threads.
Saat itu, almarhum Yurizal sempat mengeluhkan harus menunggu sekitar delapan jam untuk mendapatkan ruang rawat inap.
Alih-alih memperoleh dukungan, unggahannya justru dibalas dengan komentar bernada sinis dari sejumlah akun yang dikaitkan dengan oknum nakes.
Kasus tersebut memicu kecaman publik, terlebih setelah Yurizal meninggal dunia tak lama setelah mencuatnya kontroversi tersebut.
Sejumlah dokter yang menjadi sorotan akhirnya menyampaikan permintaan maaf secara terbuka dan mengakui komentar mereka tidak mencerminkan empati maupun etika profesi dokter atau nakes di Tanah Air.
Sumber : Journalnusantara.com
Red : Mulyana

Tidak ada komentar