HaluanIndonesia.id – Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati Bandung menggelar kegiatan Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) bagi mahasiswa baru Program Studi Magister (S2) Ilmu Komunikasi di Aula Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Acara ini sekaligus menjadi penanda resmi beroperasinya program magister tersebut, yang melengkapi peta program pascasarjana bidang komunikasi di lingkungan Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) di Indonesia.
Kegiatan orientasi dihadiri jajaran pimpinan fakultas, mulai dari Dekan, Wakil Dekan, Guru Besar Ilmu Komunikasi, ketua dan sekretaris, ketua konsentrasi S1 Ilmu Komunikasi, dosen homebase Program Studi Magister Ilmu Komunikasi, hingga para calon mahasiswa baru angkatan pertama.
Dalam sambutannya, Dekan Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Gunung Djati Bandung menyampaikan apresiasi kepada para calon mahasiswa yang telah meluangkan waktu dan menaruh minat untuk melanjutkan studi pada Program Magister Ilmu Komunikasi. Ia menegaskan, meski program ini bukan yang pertama berdiri di antara program magister ilmu komunikasi se-Indonesia pada umumnya, hal itu justru dijadikan pemantik semangat, bukan alasan untuk berada di bawah bayang-bayang program lain.

“Kita bukan yang pertama, tapi harus menjadi yang terbaik,” tegas Dekan, menggarisbawahi bahwa tanggung jawab membesarkan program studi baru ini bukan hanya menjadi beban Ketua Program Studi, Dekan, maupun Wakil Dekan semata, melainkan tanggung jawab bersama seluruh sivitas akademika, termasuk mahasiswa itu sendiri.
Ia turut mengajak para mahasiswa baru untuk membawa motivasi yang sama, di mana pun dan kapan pun, agar kelak mampu bersaing di tengah para pakar dan praktisi komunikasi lainnya. Pesan pembuka dari Dekan ini sekaligus menjadi pijakan nada optimistis yang berlanjut pada pemaparan legalitas dan arah strategis program studi oleh Ketua Program Studi.
Dalam sambutannya, Ketua Program Studi Magister Ilmu Komunikasi, Dr. Khoiruddin Muchtar, M.Si., menegaskan bahwa kehadiran program studi ini merupakan hasil perjuangan panjang selama dua tahun. Program studi resmi berdiri berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia Nomor 562/B/O/2025 tanggal 15 Juli 2025 tentang Izin Pembukaan Program Studi Ilmu Komunikasi Program Magister, yang diselenggarakan di bawah naungan Kementerian Agama Republik Indonesia.
Tak berselang lama, status akreditasi pun langsung dikantongi. Berdasarkan Keputusan Lembaga Akreditasi Mandiri Sosial Politik Administrasi dan Komunikasi (LAMSPAK) Nomor 006/AK.03.07/2026 tanggal 3 Agustus 2026, program studi ini resmi meraih status Akreditasi Pertama.

“Ini bukan sekadar administrasi izin operasional. Ini adalah pengakuan negara atas kesiapan kita untuk mengelola pengembangan keilmuan komunikasi berbasis nilai-nilai keislaman,” tegas Khoiruddin di hadapan para tamu undangan dan mahasiswa baru.
Ketua Program Studi menegaskan bahwa Program Magister Ilmu Komunikasi UIN Bandung tidak dirancang sebagai program generik. Visi besar yang diusung adalah menjadi program studi yang unggul dan inovatif dalam pengembangan ilmu komunikasi berbasis komunikasi profetik, serta berdaya saing di kawasan Asia Tenggara pada tahun 2029.
Setiap proses perkuliahan, bimbingan tesis, hingga kegiatan riset mahasiswa akan diarahkan untuk memadukan teori dan metodologi komunikasi mutakhir dengan nilai-nilai Rahmatan lil ‘Alamin, yang menurut pengelola program studi menjadi identitas keilmuan yang membedakan lulusannya di tengah ketatnya persaingan pasar kerja dan dunia akademik.
Dari sisi kurikulum, program ini disusun mengikuti pendekatan Outcome-Based Education (OBE), berpedoman pada Surat Edaran Rektor serta standar Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI) level 8. Tiga konsentrasi unggulan disiapkan untuk menjawab kebutuhan industri komunikasi global, yakni Kajian Media, Komunikasi Strategis, dan Komunikasi Politik.

Program studi juga mendorong mahasiswa untuk terlibat dalam riset kolaboratif bersama dosen pembimbing, dengan orientasi publikasi pada jurnal bereputasi baik di tingkat nasional maupun internasional, sebagai bagian dari kontribusi nyata terhadap khazanah keilmuan komunikasi, bukan sekadar syarat kelulusan.
Lulusan program magister ini disiapkan memasuki lima jalur profesi utama: akademisi ilmu komunikasi, peneliti komunikasi profesional, analis media dan demokrasi digital, konsultan sekaligus perancang strategic communication, hingga spesialis komunikasi politik dan kebijakan publik. Kompetensi lintas jenjang KKNI 8 ini dinilai membuka peluang karier luas, mulai dari dunia akademik, lembaga riset, media digital, hingga ranah komunikasi strategis dan politik.

Dalam bagian penutup sambutannya, Khoiruddin menitipkan pesan khusus kepada para mahasiswa baru bahwa mereka bukan sekadar mendaftar pada program studi baru, melainkan menjadi peletak fondasi bagi angkatan-angkatan berikutnya. Ia mengingatkan bahwa studi magister merupakan proses pematangan cara berpikir, cara meneliti, dan cara berkontribusi, bukan sekadar kelanjutan status akademik.
Ia tidak menampik akan ada masa-masa berat selama masa studi, mulai dari tugas yang menumpuk, hingga perbaikan naskah Tesis dengan revisi yang bertubi-tubi. Namun ia meyakinkan bahwa mahasiswa tidak akan berjalan sendiri, karena fakultas, para Guru Besar, dan dosen pembimbing akan mendampingi setiap langkah riset mereka.
Acara orientasi ditutup dengan harapan agar momentum ini tidak sekadar menjadi seremoni pembukaan, melainkan ikrar bersama seluruh sivitas akademika untuk membangun program studi dengan ilmu komunikasi yang berintegritas dan nilai-nilai profetik sebagai ruh dari setiap langkahnya. ***
Tinggalkan Balasan