
Haluanindonesia.id – Sebagian publik di Tanah Air, tengah dihebohkan dengan insiden kecelakaan dalam perjalanan kapal feri penumpang KM Virgo Transport 8 di Laut Jawa, pada Minggu, 13 September 2026.
Sebelumnya diketahui, sekitar 100 orang dilaporkan hilang setelah KM Virgo yang sedang dalam perjalanan dari Surabaya menuju Banjarmasin, menghadapi cuaca buruk di Laut Jawa.
Kemudian, petugas menemukan kapal yang membawa 243 penumpang tersebut dalam posisi terbalik usai sempat hilang kontak pada Minggu, 13 September 2026 sekitar pukul 02.00 WITA.
Terkini, Kapal MV Haida membawa 69 korban selamat dari kecelakaan KM Virgo Transport 8, untuk mendapat penanganan medis ke Pelabuhan Trisakti, Banjarmasin, Kalimantan Selatan (Kalsel).
MV Haida yang membantu proses evakuasi, akhirnya sandar di Pelabuhan Trisakti sekitar pukul 18.00 WITA.
Seluruh korban selamat kemudian dipindahkan ke ruang induk terminal, yang difungsikan sebagai lokasi penanganan medis sementara.
Petugas PMI Banjarmasin, Alfi menuturkan, tim gabungan langsung melakukan pemilahan korban berdasarkan tingkat kegawatdaruratan.
Hal tersebut, dinilai agar mereka yang membutuhkan pertolongan segera dapat ditangani lebih dahulu.
“Penanganan korban kami bagi menjadi tiga zona, yaitu zona hijau untuk korban dengan luka ringan,” kata Alfi dalam keterangannya di Banjarmasin, pada Senin, 14 September 2026.
“Zona kuning untuk korban luka sedang, dan zona merah untuk korban yang mengalami luka berat,” sambungnya.
Dilaporkan Alami Trauma-Sesak
Dalam proses evakuasi, tim medis dari PMI, Dinas Kesehatan, dan unsur SAR, memeriksa kondisi para korban menggunakan tempat tidur lipat atau velbed.
Hal ini dilakukan sekaligus memantau tekanan darah, detak jantung, dan tanda-tanda vital lainnya.
Sejumlah korban yang dilaporkan mengalami trauma berat, sesak napas, hingga penurunan kesadaran, mendapat penanganan lebih intensif.
Penanganan tersebut, yakni dengan pemberian oksigen, pemasangan penyangga leher atau neck collar serta infus sesuai kondisi masing-masing.
Penanganan dalam Kondisi Darurat
PMI Banjarmasin memastikan, penerapan sistem pemilahan tersebut menjadi langkah penting untuk mempercepat penanganan di tengah kondisi genting di area terminal.
Berdasarkan laporan di lapangan, terminal dipadati korban, petugas medis, relawan dan keluarga yang menunggu informasi mengenai kerabat mereka.
Di luar gedung terminal, sejumlah ambulans telah disiagakan bersama personel TNI-Polri dan relawan untuk mempercepat proses rujukan korban dengan kondisi berat dari zona merah menuju rumah sakit terdekat.
Selain itu, pihak kepolisian dan petugas keamanan pelabuhan juga melakukan sterilisasi di sekitar lokasi penanganan.
Hal tersebut, dinilai agar tim medis dapat bekerja lebih leluasa serta mencegah kepadatan menghambat proses pemeriksaan dan evakuasi lanjutan.
Hingga berita ini terbit, penanganan medis terhadap 69 korban selamat terus dilakukan bersamaan dengan upaya pencarian dan pertolongan terhadap korban lain yang masih berada di wilayah perairan Laut Jawa.
Sumber : Journalnusantara.com
Red : Mulyana
Bantu Bangkitkan Media & Jurnalis Terdampak Gempa NTT
Promedia Group berkolaborasi dengan Yayasan Permata Flores memfasilitasi dukungan bagi jurnalis dan media lokal yang terdampak bencana gempa bumi di Nusa Tenggara Timur.
Dukungan Anda sangat berarti untuk membantu pemulihan sarana serta operasional para jurnalis di lapangan. Bantuan dana tali asih dapat disalurkan melalui:
Bank BRI: 225701005978532
a.n. Yayasan Permata Flores
Mari bersatu padu membantu para pejuang informasi kembali berkarya.
Tinggalkan Balasan